Pemikiran Absurd Tak Bertuan

Belakangan kerap merasa sedang tidak ada yang seseru itu untuk ditulis.

Entahlah, aku semacam sedang tidak merasakan apa-apa dan mulai khawatir akan seberapa tidak pedulinya aku dengan rasa lelah serta fakta bahwa aku sudah terbiasa menutupi kelelahan itu dengan bersikap baik-baik saja.

Jika emosi adalah otot, milikku hampir tidak pernah ku latih sampai-sampai terasa kaku dan lemah. Lalu aku akan berkelit dari kewajiban diri sendiri dan memberikan pembenaran seperti ‘pekerjaanku sedang sibuk-sibuknya.’ atau ‘aku terlalu lelah untuk berlatih, lagipula hasilnya toh akan sama juga.’

Aku mulai lelah memberikan penjelasan atas kerumitan isi hati kepada kepalaku dan kepala-kepala pembaca sekalian. Aku mulai lelah dengan emosi yang terlampau kuat dan rasanya ingin berhenti merasakan apa-apa yang terlalu itu.

Benar saja, semua yang terlalu memang pada dasarnya tidak baik.

Emosi manusia seringnya tidak cukup untuk digambarkan hanya dalam beberapa kalimat. Seperti saat ini, antara bosan, belum mengantuk dan ingin menonton drama korea favorit namun mata terlalu lelah dan akhirnya berujung menuliskan hal-hal absurd yang ada di kepala. Kalian juga, para pembaca yang mungkin berkunjung ke sini tanpa tau sebenarnya mau mencari apa, semoga apa yang kalian baca tidak membuat kalian merasa telah membuang waktu percuma.

Selamat malam, selamat melakukan apapun yang ingin kalian lakukan.

Little Sara

Advertisements

I want to have an ability to fast forward to the day that I am no longer have to introduce myself to a random guy within a hope that I won’t get hurt again. – Little Sara

yang lebih menyeramkan daripada kehilangan: tidak pernah benar-benar memiliki. ini berlaku hanya untuk perasaan, karena benda bisa rusak atau hilang. sedangkan manusia, kita bukan properti maupun komoditi yang kepemilikannya bisa dipindahtangankan sesuka hati. – Little Sara

Lupa Yang Baik

Kalau biasanya melupakan itu membuat hidup kita berantakan, resah dan tertekan, maka kali ini aku akan bagikan kepadamu beberapa lupa yang baik.

Lupa yang baik itu cirinya, membuat kita bersyukur bahwa kita tidak sempat melakukannya. Akan aku berikan contohnya:

1. Lupa memasukkan tumpukan dokumen ke mesin penghancur kertas. Jadi aku masih punya waktu memeriksa ulang dokumen satu persatu.

2. Lupa tentang rencana bangun siang saat akhir pekan. Bangun pagi selalu lebih baik daripada bangun kesiangan, terutama untuk perawan.

3. Lupa bilang kalau mau yang dingin saat pesan minuman. Sebaik-baiknya minuman adalah yang bersuhu ruangan.

4. Lupa rencana beli kopi selepas jam 3 sore. Minum kopi sore-sore selalu membuat aku susah tidur malam hari.

5. Lupa kalau hatiku pernah disakiti dan pernah berjanji tidak ingin jatuh cinta lagi. Seringnya obat dari sakit hati adalah jatuh cinta lagi.

Ternyata tidak semua lupa itu bikin celaka, betul kan?

Little Sara

Diam Yang Bukan Emas

Jika waktu adalah benang, aku ingin menelusuri lagi, pada titik mana ia mulai kusut dan bercabang?

Sebab aku masih sangat penasaran, sesuatu yang di mulai berdua, mengapa justru berakhir masing-masing saja?

Ingin sekali aku mencari tau, apa yang membuat hasilnya berbeda dari rencana?

Lagi-lagi aku hanya bisa membuat daftar semu di kepalaku tentang apa-apa saja yang mungkin jadi salahku.

Lalu aku merasa, mengapa harus selalu aku yang bertanggung jawab memperbaiki ini semua?

Bukankah intisari dari sebuah hubungan adalah saling?

Ketika salah satu dari kita sudah memutuskan berpaling, mungkin memang sebaiknya kisah ini ku cukupkan dalam hening.

Little Sara

A Good Uncertainty

Actually the thing that people really want to make sure of is not something that already certain, it’s rather something that they feel uncertain of. Because the more uncertain it is, the more anxious we got. – Kim Ha Na on ATEEN, Dingo Mini Series (2018)

sebulan belakangan di instastory seorang teman selalu dipenuhi dengan foto bersama ayahnya, later that I know ayah temanku ini sakit. pastinya sakit apa aku ga berani tanya, tapi sepertinya sama beratnya dengan serangan jantung, stroke dan kanker. setidaknya aku berasumsi begitu, tapi semoga aja ga separah itu. semoga aja.

akupun pernah punya ayah dan telah mengalami ditinggal ayah untuk selama-lamanya. bedanya, ayahku pergi tiba-tiba. beliau tidak pernah benar-benar “sakit” kecuali jika aku terpaksa harus menghitung 1 bulan beliau rawat inap di rumah sakit karena patah kaki setelah terlibat kecelakaan sepeda motor. tapi beliau tidak pernah sakit berbulan-bulan dan sampai harus menggunakan selang dan alat-alat medis menyeramkan lainnya.

beliau meninggal sehari setelah muntah-muntah hebat. penyebabnya, kemungkinan besar karena ada permasalahan dalam organ internal beliau. tapi yang paling membuatku siap dan mampu menerima kepergian beliau adalah: beliau pergi tiba-tiba. tanpa aba-aba dan isyarat apapun, beliau pergi tanpa membuat aku berharap dia akan kembali lagi.

beda dengan orang-orang yang mengalami ditinggal keluarganya setelah berbulan-bulan dirawat di rumah sakit. ada usaha dan harapan ditengah ketidakpastian takdir: dapat terus hidup bersama atau terpaksa harus menyaksikan yang disayang meninggal. tidak jarang, ekspektasi itu menghancurkan. membuat seakan-akan apa yang diusahakan dan didoakan tidak dihargai Tuhan dan tidak jarang pula jadi menyalahkan Tuhan.

kalau aku boleh sedikit berpendapat, menurut pengalaman yang sudah aku alami, ditinggal tiba-tiba itu lebih baik daripada ditinggal dengan sejuta rencana. karena sesungguhnya manusia, siapapun itu, seburuk apapun hidupnya, pasti mencintai hidupnya dan tidak ada siapapun yang benar-benar siap untuk meninggalkan kehidupan yang selama ini kita tinggali. dan tidak ada seorangpun yang rela ditinggalkan orang yang sangat disayangi.

Seorang inspirational blogger bernama claire wineland penderita cystic fibrosis (kelainan genetik) menggambarkan kematian merupakan sebuah hal yang seberapa besarpun kita berusaha untuk menyikapinya dengan wajar tapi saat kita atau orang terdekat kita yang mengalaminya maka bersikap tidak wajar justru akan menjadi sebuah kewajaran yang mutlak. karena pada dasarnya manusia diciptakan untuk takut pada kematian, sebab pada proses menuju kematian manusia akan mulai kehilangan kendali atas pusat kesadarannya. itulah kenapa banyak orang sepuh yang kalo sakit dan dirawat di rumah sakit suka kelihatan ling lung atau malah marah-marah, kadang juga jadi halusinasi ngomong kejadian dulu-dulu. atau ada juga yang takut dan ga mau ditinggal kemana-mana.

itu adalah hal yang amat sangat wajar tapi bagi orang-orang terdekatnya bisa jadi sangat menyakitkan. karena orang yang disayang kesakitan tapi kita ga bisa membuat mereka merasa lebih baik.

aku pernah mendengar satu cerita tentang kematian seorang nenek. ini bukan cerita horor kok, tenang aja. aku ceritakan karena menurutku ini adalah cara meninggal yang sejauh ini menurutku paling wajar dan masuk akal dan tidak membuat orang terlalu sedih.

jadi ceritanya sore-sore depan rumah nenek itu ada tukang bakso lewat, dicegat dan dia beli 1 mangkok bakso yang langsung dimakan saat itu juga. selesai makan si nenek merasa agak ngantuk dan pamit tidur, ternyata beberapa jam kemudian ditemukan si nenek meninggal.

yang membuat aku menyukai cerita ini adalah fakta bahwa: nenek itu meninggal tanpa membuat orang lain merasa cemas. seakan-akan nenek ini tau bahwa, membuat orang lain khawatir tidak lantas membuat kematiannya menjadi lebih mudah diterima.

kalau kamu, ingin pergi dengan cara seperti apa? bagaimanapun cara yang akhirnya kita lalui (atau pilih, untuk sebagian dari kita) aku berharap kita pergi tanpa meninggalkan jejak-jejak kecemasan dalam hati keluarga dan orang terdekat dalam hidup kita. aku berharap, jika suatu saat yang entah kapan itu datang, kita bisa meninggalkan memori manis untuk dikenang dan keyakinan bagi mereka yang kita sayang untuk tetap hidup dengan cara yang lebih baik lagi.

Little Sara