My Tiny Permanent

Success is transparent and accessible, hanging down where it can tease but not touch us. – Marina Keegan

A big year it is, 2019 yang mungkin buat sebagian orang “hanya” a new year to pass by, tapi buat aku 2019 itu sebuah hadiah dari kegigihan diri sendiri untuk tidak menyerah. Almost 9 years ago aku yang sama sekali ga tau dunia kerja, yang sama sekali ga tau gimana caranya “hidup” (not just in a literal meaning) ngotot datang ke Ibukota. Bertahun-tahun kerja sebagai pegawai kontrak dimana setiap penghujung periode kontrak selalu resah, takut kalau tidak diperpanjang lalu kehilangan pekerjaan dan tidak punya uang untuk bayar kos-kosan.

Sebagai pegawai honorer selama hampir 1 dekade rasanya tidak salah kalau aku mendambakan a tiny bit permanent. Aku sungguh penasaran rasanya diangkat dan disamakan derajatnya dengan pegawai lain di luar sana yang kalau kenalan dan ditanya: “kerja dimana?” bisa langsung menyebutkan nama perusahaan tempatnya bekerja instead of lembaga outsourcing yang menaunginya.

Buat yang bener-bener kenal aku pasti tau aku beberapa kali pindah-pindah perusahaan hampir tiap tahun. Bukan karena aku ga loyal, tapi karena aku mengejar titel “permanen” yang entah kenapa selalu terlampau jauh sampai-sampai aku terlalu takut untuk berharap. Dulu waktu masih bergelar ahli madya aku pikir, oh mungkin karena aku cuma lulusan D3 lalu dengan uang pas-pasan aku paksakan melanjutkan S1. Tapi ternyata setelah lulus S1 pun pekerjaan tidak lalu jatuh dari langit, tetap saja aku harus melewati proses seleksi dokumen-tes tertulis-interview tahap 1-interview tahap 2-tes bahasa inggris-tes psikologi dan segala tetek bengek lainnya yang seringnya berakhir dengan ucapan “maaf anda belum dapat bergabung bla bla bla“.

Sampai aku pada satu titik dimana aku merasa capek dengan ketidakpastian ini dan berpikir; am I really not that worth it for even just a tiny permanent? Karena bagian lain dari kehidupanku pun juga belum ada yang permanen, aku mau setidaknya ada 1 hal yang permanen dalam hidupku yang bisa aku jadikan pegangan dan pencapaian supaya perjuanganku di Jakarta selama ini tidak terasa useless.

Hari ini, bapak boss di kantor mengirimkan pesan elektronik yang berisikan permohonan pengangkatanku menjadi pegawai permanen. Aku kira jadi pegawai permanen akan jadi one of the best feeling I’ve ever felt in my life, tapi ternyata rasanya biasa saja. Bukan ga senang juga sih, cuma yaa… biasa aja. It’s not that I don’t want this to happen dan bukan juga karena aku ga bersyukur diangkat jadi permanen, sebaliknya malah aku sangat bersyukur. Tapi aku merasa hal ini biasa aja karena aku tau, ini bukan pencapaian pribadiku. Aku permanen ga semata-mata karena aku kerjanya bagus banget atau gimana. Aku permanen karena aku didoakan oleh ibu dan kakakku, aku permanen karena support dari teman-teman baikku yang selalu bilang supaya aku tidak menyerah. Aku permanen karena aku punya privileged yang banyak orang di luar sana ga punya. Aku permanen karena ada orang lain di luar sana yang belum.

To think about that it makes me sad. I know how hard it was to compete with so many people who already ahead us. I know how hurtful it was to be the underprivileged and left with nothing but shame. I know it very well, yet I don’t want to give up. Aku ga mau menyerah karena aku mau nantinya kalian-kalian yang baca blog ini (meski tidak banyak) bisa punya keyakinan bahwa tidak ada yang tidak bisa. Mungkin tidak sekarang, mungkin tidak hari ini, mungkin tidak segera, tapi semakin kita berusaha maka kita semakin dekat dengan apa yang kita mau.

We are so young, we can always start over. We can always rebuild our confidence and we can always learn new things. Kalau aku bisa selangkah lebih dekat dengan apa yang aku mau, kamupun bisa, pasti bisa. Yang penting ikhlas usaha dan doanya, jangan gampang puas, jangan sombong karena kita bisa ada di posisi sekarang itu atas bantuan dan doa dari banyak orang yang bahkan kita tidak tau.

Chase your giant permanent, now!

Advertisements

Playlist January 2019

1. Into My Heart – Lee Sora

2. Best Part – Daniel Caesar ft HER

3. If You Can’t Fall Asleep – FR:EDEN prod. OPO

4. Unintended – Muse

5. Cycle – Sabrina Claudio

6. Every Kind of Way – HER

7. Amazing Thing – Kim EZ

8. Shall We Walk Together – Jung Seung Hwan

9. Thursday Night – Urban Zakapa

10. Don’t Forget – Crush

Bersyukur Meski Sedang Tidak Bahagia

Mari bersyukur

atas hujan sebelum berangkat dan pulang kerja

atas saldo rekening tabungan yang merosot tajam 1 jam setelah gajian

atas angka pada surat penagihan yang begitu besar kepada perusahaan yang bukan milikmu

atas kecemasan yang hadir sesaat setelah berita bahagia bahwa salah satu kawan akan melepas masa lajang

atas tiket konser musik gitaris favorit yang tidak mampu dibeli karena harganya terlampau mahal

Kegagalan itu cara Tuhan untuk menguji, apakah kamu bisa tetap bahagia jika situasi mengajakmu untuk tidak.

Sedangkan, bersyukur adalah cara kita meyakinkan Tuhan bahwa: hamba akan senantiasa beriman kepada-Mu meski kehidupan tidak selalu bahagia.

Little Sara

Tentang Ia Yang Nanti Pasti Bertemu

Aku penasaran, pada siapa akhirnya hati ini akan tertawan?

Apakah ia akan sudi mendengar betapa cipratan kubangan air hujan pada betis telanjangku dalam perjalanan menuju kantor pagi tadi sungguh menyebalkan?

Ataukah dia lebih suka membahas hal-hal yang sedang hangat dibicarakan semua orang seperti akun gosip di media sosial?

Bagaimana suasana perjalanan pulangnya?

Apakah ia harus berjibaku menahan nyeri akibat desakan siku-siku tangan yang sama tajamnya dengan ujung payung lipat yang disimpan dalam tas ransel para penumpang di gerbong kereta?

Ataukah ia dalam hati sibuk memaki sebab harus menahan kencing dalam sebuah mobil dengan AC terlalu dingin ditengah-tengah antrian lampu merah yang tidak kunjung berganti hijau?

Apakah ia suka makan? Atau ia justru tipe manusia yang gemar menyematkan kata “tidak suka” sebelum nama makanan yang umum dimakan sehari-hari hanya berdasarkan rasa?

Apakah ia sangat mencintai pekerjaannya sampai-sampai ia berpikir bahwa tanpa pekerjaan itu hidupnya akan terasa hampa? Atau ia adalah manusia yang gemar menggerutu akan apa yang tidak ia dapatkan dari perusahaannya?

Apakah ia mampu mendengarkan tanpa diam-diam menghakimi? Ataukah ia lebih suka menjadi pihak yang bicara banyak-banyak tanpa peduli respon dari lawan bicaranya?

Aku tidak tau engkau manusia seperti apa, aku tidak mau serta-merta memasang tolak ukur atas orang yang bahkan aku belum tau siapa. Tapi satu yang aku percaya, bahwa kau adalah cerminan dari aku dan begitupun sebaliknya.

Maka dari itu aku berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik sedikit demi sedikit setiap harinya, aku yakin kaupun begitu. Sampai nanti kita dipertemukan takdir dan akhirnya bersatu, yakinlah bahwa itu semua berkat usaha-usaha dan doa yang tidak besar namun selalu kita sematkan diam-diam dalam ikhlas.

Little Sara

4 Types of Attitude That Will Likely to Ruin Your Marriage

Selamat tahun baru!!!

teretet tetteew terereret~

*insert interlude lagunya jennie blackpink*

Apa kabar nih dunia, maap yha di-🍇-in terus. Bingung mencari-cari konten apa yg faedah, tapi alhamdulillah pengalaman pulang kampung pas tahun baru kemarin sangat bikin aku ga sabar menulis lagi.

berumahtangga atau, lebih umumnya disebut pernikahan itu tidak mudah. Aku tau dan berkat 9 hari di rumah bersama keluargaku akhir tahun kemarin. aku jadi semakin sadar bahwa, ternyata pernikahan itu amat sangat sulit sekali. Here’s why,

1. pihak yang implusif

tiba-tiba ngotot berpergian jauh atau mengadakan pesta tanpa persiapan, sesuatu yang diputuskan hari ini untuk hari ini. seakan uang itu udara yang bisa dihirup kapan saja dan selalu ada.

2. pihak yang dependen

mereka-mereka yang tidak atau belum bisa melakukan banyak hal dengan kemampuan mereka sendiri karena faktor usia. contohnya: balita dan lansia. sama-sama mengharuskan orang disekelilingnya untuk senantiasa maklum dan mengatasnamakan “yaudah namanya juga ….” untuk membenarkan keonaran yg timbul dari ulah mereka. masalahnya, tidak semua pihak mau dengan sigap melakukan “hal-hal yang seharusnya dilakukan” (baca: menyuapi, memandikan, membersihkan kotorannya, menemaninya tidur, dsb) tanpa harus saling berdebat dengan urat.

3. pihak yang memilih tidak peduli

biasanya mereka ini memilih memusatkan tenaga dan perhatian mereka hanya pada hal2 yg mereka suka dan mau saja. misalnya: game, tv, youtube, olahraga, makan, pekerjaan, musik, dsb. mereka memutuskan untuk membahagiakan dirinya sendiri dan percaya bahwa semua orang hrusnya melakukan hal yang sama dengan diri mereka masing-masing.

4. pihak yang sok tau (padahal salah)

tanpa mengurangi rasa hormat, biasanya mereka-mereka ini adalah orang yang dituakan seperti ayah,ibu,mertua, kakak ipar, kakak kandung. Orang-orang seperti ini entah kenapa hobby sekali komentar layaknya netijen instagram, pointing out mana-mana saja yang salah dan seperti apa “seharusnya” kita bersikap. padahal seringkali justru yang dia putuskan malah merugikan banyak pihak.

Sampai detik tulisan ini diketik, aku masih merasa belum mampu untuk menerima betapa egoku yang sudah habis dipangkas ini nantinya saat menikah akan dilaser supaya tidak tumbuh lagi selamanya. kata selamanya ini tidak berlebihan karena toh semua orang ingin pernikahan yang sekali seumur hidup. hal yang paling dikhawatirkan adalah ketika sudah menikah malah muncul pertanyaan “apakah aku bahagia?” yang kemudian dijawab sendiri dengan nada kecewa, “tidak.”

mana ada manusia yang sampai mati rela mengalah karena alasan yang sama, dengan orang yang sama? pasti akan ada sebuah titik dimana kita akan merasa lelah dan ingin merubah, tapi lagi-lagi kita hanya punya kemampuan merubah diri sendiri, dan tidak untuk orang lain.

kalau kamu, apa yang bagimu paling rumit?

Little Sara

One Creative Morning Workshop : Tradition

Those who knows me knows how weird my music taste is. Aku suka sekali musik-musik yang sangat cocok untuk lullaby songs and find it very relaxing. Salah satu musisi yang karyanya bikin aku antusias adalah Banda Neira, sayangnya mereka sudah memutuskan bubar di 2015. Sediiii! *insert isak tangis vicky prasetyo pas grebek pintu kamar angel lelga yang bentukannya kaya loket TU*

Buat aku menyukai sesuatu itu ga hanya sekedar suka, ketika aku suka Banda Neira aku bener-bener cari tau siapa orang-orang dibalik lagu ini. Apa background mereka, apa value mereka, dsb. Sometimes it can be a bit creepy karena kesannya aku stalking habis-habisan, but you know, curiosity kills dragon. Hahaha…

Nah, setelah melakukan riset tentang Rara Sekar (salah satu personil Banda Neira) aku merasa sangat terinspirasi dengan pola pikirnya yang tidak umum tapi justru sangat bernilai. Jadilah aku ngefans mampus sama ini orang. Beberapa tahun lalu aku sempat datang ke photography exhibition dimana si Rara Sempat andil menjadi salah satu Exhibitor, aku selalu sempatkan datang ke gigsnya atau acara apapun yg ada dia, aku baca postingan di tumblrnya (dan tumblr suaminya), aku sempat mencoba skin care rutin produk lokal yg dia rekomendasikan, baca buku dari salah satu filusuf inspriratif yang dia baca (Jiddu Khrisnamurti) dan masih banyak hal-hal freak lain yang ku lakukan sebagai die hard fans.

Se-ngefans itu memang, karena rasanya tiap dengerin dia ngomong yg dia omongin ini makin bermutu.

Sabtu kemarin aku sign up untuk sebuah open discussion dimana Rara Sekar menjadi the one and only speaker dengan topik yang cukup berat: Tradition. Mengingat si Rara ini ambil S2 jurusan antropologi akupun mikir kalau diskusi ini bisa jadi terlampau berat untuk otakku yang disupply dari warung padang terdekat. *insert VO ketawa ngikik a la Suzzana*

Eeeee… ternyata contoh kasus yang diambil Rara untuk diskusi ini tidak lain dan tidak bukan adalahhhhh… PERNIKAHAN. Yak saudara-saudara, bagi yang baru batal nikah silahkan melepaskan anak panahnya langsung ke jantung masing-masing! Hahaha…

Dalam diskusi yang keseluruhannya sangat relatable buat aku itu, agak kaget juga sih karena ternyata dari perspektif aku yang batal menikah dan Rara yang alhamdulillah sudah menikah tentang bagaimana tradisi menikah ini ditekankan oleh masyarakat dan apa yang kita (Rara dan Aku) ingin/sudah jalankan cukup bertolak belakang. Akupun pernah menulis tentang hal yang sama dalam postingan sotoy-ku beberapa bulan lalu bahwa dalam menikah itu seringnya orang menjadi saru dalam memandang hal-hal mana yang must have dan mana yang sekedar nice to have. Dan yang terpenting adalah bagaimana kita menanggapi restrictions tak berdasar disekitar kita yang terbentuk dengan embel-embel tradisi dan membuat kita seakan wajib untuk menjalankan. As if we’re not a part of something if we don’t.

Rara sendiri punya privileged untuk mendiskusikan apa-apa yang dia mau dan apa yang tidak dengan keluarganya yang lebih open minded dan mau menerima pendapat baru yang mungkin saja tidak sama tapi selama itu baik, mereka mau menerima dan dengarkan. Tapi lagi-lagi tidak semua orang punya privileged yang sama dan kalau sudah begitu kita dihadapkan dengan kalimat playing God seperti; “kalau kamu memang merasa anakku kamu harus ikut peraturanku.”

Serba salah ugha nih diskusi sm kaleng krupuk. *taratakdungces*

Menikah memang sekompleks itu sih, karena ketika kita menikah dengan seseorang kita ga sekedar menikah dengan si A as a person, tapi juga semua elemen dalam hidupnya si A. Kita menikahi keluarganya, latar belakang pendidikannya, teman-temannya, pekerjaannya, social statusnya, agamanya, kebiasaannya, pemikirannya, dan masih banyak lagi. Maka sering terjadi secara personal cocok tapi pas mau nikah gagal, ya karena nikah itu kompleks. Selama kita masih memandang menikah itu sekedar “aku cinta kamu.” kok rasanya akan sangat susah untuk bisa bergabung dalam club cincin di jari manis.

Kalau kalian sendiri apa restrictions dan privileged yang kalian punya berkaitan dengan tradisi pernikahan, dan bagaimana kalian menyikapi hal itu? Would love to hear from you.

Little Sara