Have Courage and Be Kind

Siang tadi sedikit dikejutkan dengan sebuah pesan singkat melalui whatsapp dari seorang teman lama yang kira-kira bunyinya begini:

nge, besok aku jemput ya. nanti aku ajak suami sama kakak iparku juga.

Jadi sekitar 1,5 bulan lalu salah satu teman baik gue jaman SMA dulu main ke Jakarta dan kita meet up. Kita ngobrol banyak sekali dalam kehangatan yang sama tapi dengan pola pikir yang sedikit berbeda, kita sudah cukup tahu diri untuk ga cekikikan di tempat umum dan sudah cukup punya uang untuk beli sushi dan steak. Teman gue ini sudah menikah dan punya 1 anak dari pernikahannya. Dia cerita ke gue bahwa; nikah itu ga mudah dan semuanya perlu perjuangan dan keinginan kuat untuk selalu “make everything works” dari kedua pihak. Which is gue sangat setuju.

Gue pun cerita tentang apa yang baru gue alami dan teman gue ini berusaha menghibur dengan bilang, wes kamu tak kenalin sama kakak iparku aja lah nge, baik kok orangnya. Gue mengiyakan saat itu, karena gue juga tidak punya alasan untuk menolak. After all, I’m still quite optimistic about the idea of getting married and have my own family not to mention the fact that I’m still not sure myself when will that happens. But since nobody sure about it anyway, gue pikir ya udah maju aja kenalan dulu, cuma kenalan kan ga ada salahnya.

 

Tapi terus gue lupa, karena ga ada tuh yang ngehubungin gue ngajak kenalan. Dan tiba-tiba gue dapat pesan seperti itu siang ini. To be honest, gue jadi mikir lebih serius lagi. Tentang diri gue, tentang apa yang gue mau dan apa yang gue rasakan saat ini. Gue kaya, apa ya? Hmmm… Gue sekarang berada pada stage di mana gue merasa ga punya energi untuk sekedar kenalan sama orang baru dan menceritakan tentang diri gue. Gue capek dan males dan malu dan takut dijudge. Gue takut gue diperlakukan seakan-akan gue ga worth it (lagi). I am not ready for another rejection.

 

This is extra depressing karena gue tau, gue ga boleh begini. I have to trust myself more. Karena dengan mempercayai diri gue sendiri itu artinya gue masih menyayangi dan menghargai diri gue. Dan hanya orang-orang yang menyayangi dan menghargai dirinya dengan baik lah yang layak mendapatkan hal yang sama dari orang lain. But I am not that person, I still doubt myself a lot. I still blame myself for everything that had happened and I’d hated myself for that.

 

Tapi apa iya, gara-gara itu gue ga layak disayang dan dihargai?

 

Gue capek sakit terus, gue capek marah terus. Gue pengen ga marah tapi belum bisa, gue belum sekuat itu untuk bisa ikhlas. Gue masih suka doain yang jelek-jelek buat orang yang menyakiti gue. Gue masih belum bisa berdiri setelah kemarin jatuh tersungkur. Dan masih terlalu takut jatuh lagi dengan alasan yang sama.

 

But I once heard that; being brave doesn’t mean that we don’t feel fear, being brave is doing something despite of being fearful. Gue ga tau apa ini keputusan yang tepat, tapi gue akan tetap menemui orang itu meski gue merasa sangat takut dan ga yakin. Kalaupun keputusan gue salah, setidaknya gue sudah lebih berani menghadapi diri gue sendiri.

 

 

 

 

Little Sara

Advertisements

Hopefully

Baru-baru ini potong rambut dan kemarin ada yang komentar, rambut kamu bagus deh, wangi lagi, pake shampoo apa sih?

Sebuah pertanyaan yang awalnya cuma gue jawab dengan nyengir, karena:

  1. Gue ga tau merk shampoo yang gue pake, lebih tepatnya gue ga mau tau dan ga mau mengingat
  2. Shampoo yang gue pake itu shampoo bekas seserahan

Bingung gue, ga menemukan bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan tanpa orang nanti jadi bertanya, emang kenapa kok ga jadi nikah? dan kemudian mendapatkan tatapan duh, kesian banget ini anak. Because those who are truly pitiful had already pitied themselves enough that they don’t want to be pitied by anyone else.

Semua orang yang gue temuin dan gue ceritain tentang hal ini selalu bilang 3 hal:

  1. Sabar
  2. Mungkin emang belum/ga jodoh
  3. Udah ga usah dipikirin lagi

As if forgetting something is just as easy. But how can such thing become easy to forget? How can I act like I didn’t get affected? This is really sad, it feels like I’m getting pushed away everywhere and nobody wants me.

I want to heal quickly, I want to feel at ease and breathe normally. I want to feel a little better. I want to reach the point where the fact that I got dumped by someone doesn’t really matter anymore. I want to stop being mad to myself and love myself instead.

 

I hope that will do come true, I really hope so.

 

 

Little Sara

Mungkin Lain Kali

Lucu sekali, 8 tahun gue masuk dunia kerja dan gue selalu menemui kendala yang sama. Selalu kalah bersaing secara pekerjaan oleh mereka-mereka yang “siapanya siapa” atau sama mereka-mereka yang secara fisik lebih “appealing”.

I wonder if I am the one who’s too proud of myself or if it’s just people who choose being cheap?

Gue pikir attitude yang baik dan keinginan belajar secara konstan adalah kunci supaya gue bisa berhasil. Tapi faktor utama dari kata “berhasil” itu sendiri ternyata terlalu kompleks untuk dikerucutkan. Gue jadi suka bertanya-tanya sendiri, gue sebenarnya mau berhasil menjadi apa?

Berhasil punya banyak uang tapi lalu menjadi manusia yang kelakuannya seperti binatang?

Berhasil menduduki jabatan tertentu tapi setiap hari harus menjilat pantat orang lain dan menjadi hamba dari ciptaan Tuhan?

Atau berhasil berpura-pura bahwa hidup kita telah mencapai titik kepuasan paling wahid yang didambakan setiap manusia padahal kita masih kerap terbangun dengan pertanyaan yang sama; kenapa saya harus melakukan ini semua?

Ada seorang karyawan yang tidak bisa bekerja, yang tidak tau bedanya antara issued dan booking tapi tetap digaji tepat waktu karena bapaknya kenal sama yang punya perusahaan.

Ada juga perempuan yang bertubuh molek dan berkulit putih yang karirnya melesat dari keroco mumet jadi hewan ternak yang kerjanya cuma makan dan tidur.

Rasanya mau teriak, ini tidak adil! Tapi lalu teringat bahwa tidak pernah ada yang adil di dunia ini, karena rejeki setiap orang itu berbeda. Meskipun gue berusaha 1000x lebih keras, meskipun gue berdoa lebih rajin, kalau cuma segitu jatah rejeki yang diberikan sama gue ya sudah. Mau bagaimana lagi?

Pada akhirnya kan manusia ini cuma bidak catur Tuhan. Kita tidak pernah maju karena ingin, kita maju karena Tuhan yang ingin. Disaat-saat seperti ini gue berharap, semoga ini semua terjadi karena Tuhan sayang sama gue, benar-benar sayang tanpa maksud mempermainkan doa dan harapan gue.

Little Sara

It’s Time To Trust Yourself Again

I have this believe that, when you’re expecting someone to do something, you gave a part of yourself to them. You trust them, and trust is something you can’t take it back, nor replace.

Thats why people get sad, mad and frustrated when they find out that the reality is far from what they’d expected for. We would’ve felt betrayed, disappointing and lost. Its like you’re expecting for something run of the mill that turns out to be too much to hope for.

Then we tried to cover up the truth, we started to make some rational justification that we’d tried our best. that its just, the timing wasn’t right. Its actually more like we’re just looking for some kind of consolation so we don’t have to deal with the miserable feeling as the result of self pity.

The truth is, it isn’t ours and we have to accept that.

But then the question is, how can we know if it’s ours or not if we haven’t try anything to figure it out? In short, how could we possibly found our destiny if we don’t bother to try?

But again, trusting someone you don’t know to take care a part of yourself, really is the scariest thing to do. Unfortunately, trust did not come with a full insurance premium nor legalized contract. It may broke, it will and that won’t feel so good but you’ll still live anyway. And for me, as long as we still managed to live then that’s enough.

Because by feel all the disappointment, your heart will grow. The wound will also healed as the time goes by. And, another train has been waiting for you to jump in. So be brave, and trust yourself again.

 

 

Little Sara

Second Attack

Gue lagi dalam perjalanan balik dari event design interior di Pasific Place saat tiba-tiba panic attack menyerang lagi. Gue langsung jongkok di tengah-tengah padestrian walk yang untungnya ketutup sama pembatas proyek konstruksi di sisi kanan dan kirinya, badan gue bergetar hebat dan gue nangis sejadi-jadinya. Rasanya susah banget bernapas, kepala gue panas tapi tangan gue dingin banget. Otot-otot tubuh gue lemes, seakan-akan gue baru lari marathon.

Tepat di detik itu rasaya semua hal-hal yang ga pengen gue inget tiba-tiba teringat jelas banget dan sakit sekali rasanya. Gue benci semua itu, gue benci dengan semua kemampuan yang gue miliki untuk membenci. Gue marah sama orang yang bikin gue merasa begini, gue pengen datengin dia dan gue maki-maki di depan mukanya sampai gue puas. Tapi gue tau, nothing will change this situation. Yang ada gue malah akan terlihat konyol dan pathetic, seakan-akan gue ga laku dan ga ada yang mau nikahin gue selain dia, seakan-akan gue meng-amini pemahamannya dia bahwa; gue bukan orang yang worth it sebagai pasangan hidup.

Thats it, ga worth it.

That words that labelled on me so harshly which makes me questioning myself, am I less worthy than what I thought I was all these times? am I over-valued myself that much?

Gue tau gue ga sempurna, tapi bagian mana yang bikin gue sampai se-sampah itu? Sampai harus dilepeh sebegitunya, sampai ada manusia yang berpikir bahwa gue pantes dibuang kaya kotoran. Why can’t somebody explain to me, bagian mana dari diri gue atau dari apa yang gue perbuat yang membuat gue menjadi se-sampah itu?

Gue pengen percaya kalo gue ga serendah itu, but the fact that someone treated me like ones makes me think that maybe I am a part of it; a part of trash.

Ini lebih kompleks dari pada sekedar jadi atau ga jadi nikah, ini lebih kompleks dari sekedar ikhlas dan ibadah. Gue sejujurnya jadi ga tau gue ini manusia seperti apa, gue jadi bingung dan ga mengenal gue ini siapa. Yang bilang, ‘yaudah ga usah dipikirin, ntar juga lupa.‘ sayangnya gue masih punya otak dan memori yang berfungsi dengan sangat baik dan gue ga bisa pura-pura lupa sama apa yang ada di otak gue.

Gue jadi benci sama diri gue sendiri.

 

Little Sara

Thoughts After 3 Miles Walk

When I told someone I just walk around 3 miles in the midnight because I couldn’t found any cab or gojek, people will started to pity me. They will say something like, you should’ve called me. As if calling them will make any difference, and for that I will chuckle a bit.

 

I always managed to understand the fact that; people always too busy for me. But the thing that I can hardly digest is that, why do I always have the urge to be with someone when they needed something? why should I pretend myself as a bodyguard or a protector while I myself still need a protection?

 

Maybe because I know how vicious loneliness can leads you to. Maybe because I know exactly how it feels like to needed someone to help but no one ever be there. Maybe because I don’t want anyone knows that loneliness I felt.

 

How pathetic am I, to hide something that no one even want to know.

 

Sometimes I want to be selfish, I want to think of me and myself only, my happiness, my priority. But at the same time I realized that even when I do feel happy, I still have no one to share it with, so what’s the used of being happy if I have to feel it alone? Then I, unconsciously will let go all of the things I want and let people have what they want. Yet I still not feel as happy. I still not feel the fullest, I still feel lonely.

 

I don’t hate loneliness, not to that extent. But loneliness, if you felt it for too long, it will started to create a hole in your heart. Later that I know, I always busy to fill up the hole with everything I could possibly found, music, books, foods, movies, yet it never really fill the hole perfectly. There’s always something missing, something that is yet to be here.

 

I am currently too tired to searching for anything, so I will just sit quietly in my corner hoping that it will ends. All these loneliness, the unfulfilled feelings and the sadness over nothing will be gone someday. I know it will, I just still don’t know how and when.

 

 

Little Sara

 

 

Di Luar Rencana

malaikat kecil yang bernapas lima belas hari saja

janji pernikahan yang dicukupkan dalam frasa “rencana

serta harapan yang terhempas begitu saja

 

aku dibangunkan oleh realita

yang harus segera  ku terima

entah karena ikhlas atau terpaksa

 

yang jelas, keduanya meninggalkan perih yang sama

 

 

 

Little Sara